Anak dengan autisme dapat tampak normal di tahun pertama maupun tahun kedua dalam kehidupannya. Para orang tua seringkali menyadari adanya keterlambatan kemampuan berbahasa dan cara-cara tertentu yang berbeda ketika bermain serta berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tersebut mungkin dapat menjadi sangat sensitif atau bahkan tidak responsif terhadap rangsangan-rangasangan dari kelima panca inderanya (pendengaran, sentuhan, penciuman, rasa dan penglihatan). Perilaku-perilaku repetitif (mengepak-kepakan tangan atau jari, menggoyang-goyangkan badan dan mengulang-ulang kata) juga dapat ditemukan. Perilaku dapat menjadi agresif (baik kepada diri sendiri maupun orang lain) atau malah sangat pasif. Besar kemungkinan, perilaku-perilaku terdahulu yang dianggap normal mungkin menjadi gejala-gejala tambahan. Selain bermain yang berulang-ulang, minat yang terbatas dan hambatan bersosialisasi, beberapa hal lain yang juga selalu melekat pada para penyandang autisme adalah respon-respon yang tidak wajar terhadap informasi sensoris yang mereka terima, misalnya; suara-suara bising, cahaya, permukaan atau tekstur dari suatu bahan tertentu dan pilihan rasa tertentu pada makanan yang menjadi kesukaan mereka.
Beberapa atau keseluruhan karakteristik yang disebutkan berikut ini dapat diamati pada para penyandang autisme beserta spektrumnya baik dengan kondisi yang teringan hingga terberat sekalipun.
1. Hambatan dalam komunikasi, misal: berbicara dan memahami bahasa.
2. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain atau obyek di sekitarnya serta menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terjadi.
3. Bermain dengan mainan atau benda-benda lain secara tidak wajar.
4. Sulit menerima perubahan pada rutinitas dan lingkungan yang dikenali.
5. Gerakkan tubuh yang berulang-ulang atau adanya pola-pola perilaku yang tertentu
Para penyandang Autisme beserta spektrumnya sangat beragam baik dalam kemampuan yang dimiliki, tingkat intelegensi, dan bahkan perilakunya. Beberapa diantaranya ada yang tidak 'berbicara' sedangkan beberapa lainnya mungkin terbatas bahasanya sehingga sering ditemukan mengulang-ulang kata atau kalimat (echolalia). Mereka yang memiliki kemampuan bahasa yang tinggi umumnya menggunakan tema-tema yang terbatas dan sulit memahami konsep-konsep yang abstrak. Dengan demikian, selalu terdapat individualitas yang unik dari individu-individu penyandangnya.
Terlepas dari berbagai karakteristik di atas, terdapat arahan dan pedoman bagi para orang tua dan para praktisi untuk lebih waspasa dan peduli terhadap gejala-gejala yang terlihat. The National Institute of Child Health and Human Development (NICHD) di Amerika Serikat menyebutkan 5 jenis perilaku yang harus diwaspadai dan perlunya evaluasi lebih lanjut :
1. Anak tidak bergumam hingga usia 12 bulan
2. Anak tidak memperlihatkan kemampuan gestural (menunjuk, dada, menggenggam) hingga usia 12 bulan
3. Anak tidak mengucapkan sepatah kata pun hingga usia 16 bulan
4. Anak tidak mampu menggunakan dua kalimat secara spontan di usia 24 bulan
5. Anak kehilangan kemampuan berbahasa dan interaksi sosial pada usia tertentu
Adanya kelima ‘lampu merah’ di atas tidak berarti bahwa anak tersebut menyandang autisme tetapi karena karakteristik gangguan autisme yang sangat beragam maka seorang anak harus mendapatkan evaluasi secara multidisipliner yang dapat meliputi; Neurolog, Psikolog, Pediatric, Terapi Wicara, Paedagog
*GEJALA YANG TAMPAK
• Komunikasi
Dimana anak tersebut seolah – olah menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain. Ia menolak bertatap muka, bila di panggil seolah – olah tidak mendengar, bila didekati malah menjauh, tidak suka dipeluk.
• Perkembangan Bicara Lambat
Ia banyak berbicara dengan bahasanya sendiri yang tidak dapat dimengerti orang lain. Sering berbicara meniru – niru, misalnya : meniru iklan di televisi tanpa ia mengerti artinya. Pada mereka yang sudah pandai bicara, tata bahasnya kacau.
• Perilaku Seringkali Aneh
Misalnya, tertawa sendiri, melompat – lompat, berputar – putar, berjalan jinjit, seringkali terpukau oleh benda yang berputar seperti roda sepeda atau kipas angin. Tidak mengerti arti mainan sehingga mainannya hanya dibuang – buang.
Selasa, 30 Maret 2010
TIPE-TIPE AUTIS
TIPE – TIPE AUTIS
VIVAnews - Seringkali orang menganggap autisme sebuah penyakit. Namun, autisme merupakan gejala keterbatasan gangguan perkembangan, termasuk autisme ringan hingga gangguan mental berat (PDD).
Penderita austisme memiliki kesulitan berkomunikasi dan memahami perkataan dan perasaan orang lain. Akibatnya, penderita sering kesulitan mengekspresikan diri melalui kata, bahasa tubuh, raut wajah dan sentuhan. Anak yang mengidap autisme sangat sensitif terhadap suara, sentuhan, bau, dan pemandangan yang bagi orang lain dianggap normal. Autisme menyerang enam hingga delapan anak setiap 1.000 kelahiran.
Orangtua dapat mendeteksi gejala autisme sejak usia tiga tahun. Beberapa anak menunjukkan tanda-tanda autisme sejak lahir. Sebagian lainnya tumbuh normal dan namun mengalami gejala autisme pada usia 18-36 bulan. Anak laki-laki penderita autisme empat kali lebih banyak daripada anak perempuan. Gejala autisme tidak mengenal suku, etnis, atau kondisi sosial lainnya seperti pendapatan, gaya hidup, atau tingkat pendidikan orang tua.
Berikut beberapa jenis autisme:
* Gangguan autistik
Gejala ini sering diartikan orang saat mendengar kata autisme. Penderitanya memiliki measalah interaksi sosial, berkomunikasi, dan permainan imaginasi pada anak di bawah usia tiga tahun.
* Sindrom Asperger
Anak yang menderita sindrom Asperger memiliki problem bahasa. Penderita sindrom ini cenderung memiliki intelegensi rata-rata atau lebih tinggi. Namun seperti halnya gangguan autistik, penderita kesulitan berinteraksi dan berkomunikasi.
* Gangguan perkembangan menurun (PDD)
Gejala ini disebut juga non tipikal autisme. Penderita memiliki gejala-gejala autisme, namun berbeda dengan jenis autistik lainnya.
* Sindrom Rett
Sindrom ini terjadi hanya pada anak perempuan. Mulanya anak tumbuh normal. Pada usia satu hingga empat tahun, terjadi perubahan pola komunikasi, dengan pengulangan gerakan tangan dan pergantian gerakan tangan.
* Gangguan Disintegrasi Anak
Pada gejala autisme ini, anak tumbuh normal hingga tahun kedua. Selanjutnya anak akan kehilangan sebagian atau semua kemampuan komunikasi dan keterampilan sosialnya.
Para peneliti memperkirakan kombinasi gen dalam keluarga menyebabkan subtipe autisme. Bahan kimia atau obat-obatan yang masuk dalam tubuh ibu selama kehamilan berperan dalam gejala autisme. Dalam beberapa kasus, autisme berkaitan dengan tingkat phenylketonuria (gangguan metabolisme yang disebabkan tidak adanya hormon tertentu), virus rubella, dan penyakit celiac (tidak mampu menoleransi gluten dalam tepung).
Walaupun penyebab autisme belum diketahui pasti, peneliti menilai autisme disebabkan ketidaknormalan bagian otak yang mengintrepretasi bahasa. Ketidakseimbangan kimiawi otak mempengaruhi terjadinya gejala autisme.
(• VIVAnews)
Autis pada umumnya digolongkan pada 2 tipe autis, yaitu : Low Functioning (IQ rendah) dan High Functioning (IQ tinggi).
1. Jumlah penderita autis low functioning lebih banyak dari high functioning. Penderita autis low functioning masih bisa masuk SLB (Sekolah Luar Biasa), tetapi untuk anak autis yang benar – benar low functioning, ia tidak akan bisa mengenal huruf – huruf dan membaca.
2. Untuk anak autis hight functioning bisa disebut Osperger. Komunikasinya baik, tetapi kurang berinteraksi social. Anaknya pintar, sangat senang dan berminat pada suatu bidang, tetapi tidak bisa bersosialisasi. Bahayanya potensi ini tidak akan keluar karena dia akan terlihat seperti anak yang tidak bisa diam.
3. Autis pada anak berbeda – beda tarafnya, dari yang ringan sampai yang berat. Autis dapat terjadi pada siapa saja tanpa membedkana perbedaan status social dan ekonomi. Kira – kira 40 % dari anak autis mempunyai taraf kecerdasan rendah (IQ dibawah 50), 30 % mempunyai IQ sekitar 70 atau lebih. Sisanya mempunyai taraf yang normal.
VIVAnews - Seringkali orang menganggap autisme sebuah penyakit. Namun, autisme merupakan gejala keterbatasan gangguan perkembangan, termasuk autisme ringan hingga gangguan mental berat (PDD).
Penderita austisme memiliki kesulitan berkomunikasi dan memahami perkataan dan perasaan orang lain. Akibatnya, penderita sering kesulitan mengekspresikan diri melalui kata, bahasa tubuh, raut wajah dan sentuhan. Anak yang mengidap autisme sangat sensitif terhadap suara, sentuhan, bau, dan pemandangan yang bagi orang lain dianggap normal. Autisme menyerang enam hingga delapan anak setiap 1.000 kelahiran.
Orangtua dapat mendeteksi gejala autisme sejak usia tiga tahun. Beberapa anak menunjukkan tanda-tanda autisme sejak lahir. Sebagian lainnya tumbuh normal dan namun mengalami gejala autisme pada usia 18-36 bulan. Anak laki-laki penderita autisme empat kali lebih banyak daripada anak perempuan. Gejala autisme tidak mengenal suku, etnis, atau kondisi sosial lainnya seperti pendapatan, gaya hidup, atau tingkat pendidikan orang tua.
Berikut beberapa jenis autisme:
* Gangguan autistik
Gejala ini sering diartikan orang saat mendengar kata autisme. Penderitanya memiliki measalah interaksi sosial, berkomunikasi, dan permainan imaginasi pada anak di bawah usia tiga tahun.
* Sindrom Asperger
Anak yang menderita sindrom Asperger memiliki problem bahasa. Penderita sindrom ini cenderung memiliki intelegensi rata-rata atau lebih tinggi. Namun seperti halnya gangguan autistik, penderita kesulitan berinteraksi dan berkomunikasi.
* Gangguan perkembangan menurun (PDD)
Gejala ini disebut juga non tipikal autisme. Penderita memiliki gejala-gejala autisme, namun berbeda dengan jenis autistik lainnya.
* Sindrom Rett
Sindrom ini terjadi hanya pada anak perempuan. Mulanya anak tumbuh normal. Pada usia satu hingga empat tahun, terjadi perubahan pola komunikasi, dengan pengulangan gerakan tangan dan pergantian gerakan tangan.
* Gangguan Disintegrasi Anak
Pada gejala autisme ini, anak tumbuh normal hingga tahun kedua. Selanjutnya anak akan kehilangan sebagian atau semua kemampuan komunikasi dan keterampilan sosialnya.
Para peneliti memperkirakan kombinasi gen dalam keluarga menyebabkan subtipe autisme. Bahan kimia atau obat-obatan yang masuk dalam tubuh ibu selama kehamilan berperan dalam gejala autisme. Dalam beberapa kasus, autisme berkaitan dengan tingkat phenylketonuria (gangguan metabolisme yang disebabkan tidak adanya hormon tertentu), virus rubella, dan penyakit celiac (tidak mampu menoleransi gluten dalam tepung).
Walaupun penyebab autisme belum diketahui pasti, peneliti menilai autisme disebabkan ketidaknormalan bagian otak yang mengintrepretasi bahasa. Ketidakseimbangan kimiawi otak mempengaruhi terjadinya gejala autisme.
(• VIVAnews)
Autis pada umumnya digolongkan pada 2 tipe autis, yaitu : Low Functioning (IQ rendah) dan High Functioning (IQ tinggi).
1. Jumlah penderita autis low functioning lebih banyak dari high functioning. Penderita autis low functioning masih bisa masuk SLB (Sekolah Luar Biasa), tetapi untuk anak autis yang benar – benar low functioning, ia tidak akan bisa mengenal huruf – huruf dan membaca.
2. Untuk anak autis hight functioning bisa disebut Osperger. Komunikasinya baik, tetapi kurang berinteraksi social. Anaknya pintar, sangat senang dan berminat pada suatu bidang, tetapi tidak bisa bersosialisasi. Bahayanya potensi ini tidak akan keluar karena dia akan terlihat seperti anak yang tidak bisa diam.
3. Autis pada anak berbeda – beda tarafnya, dari yang ringan sampai yang berat. Autis dapat terjadi pada siapa saja tanpa membedkana perbedaan status social dan ekonomi. Kira – kira 40 % dari anak autis mempunyai taraf kecerdasan rendah (IQ dibawah 50), 30 % mempunyai IQ sekitar 70 atau lebih. Sisanya mempunyai taraf yang normal.
FAKTOR PENYEBAB AUTIS
I. FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB AUTIS
Sebagian para ahli menyatakan sebagai kelaina perkembangan akibat dari faktor genetic, neurobiologist, zat beracun dan vaksin.
• Faktor Genetik
Hal ini diperoleh berdasarkan hasil penelitian Nelson dan Grether pada tahun 2001 ( dalam Indri Hapsari 2001 ) memberikan gambaran kasar bahwa 5 % dari saudara kandung anak penyandang autis dan 75 % bagi saudara kembar identk dari anak penyandang autis.
• Faktor Neurobiologis
Hal ini dinyatakan oleh Baron-Cohen dan Bolton berdasarkan hasil Study Post Morten ( setelah meninggal ). Study dilakukan terhadap jaringan otak penyandang autis mengindikasikan terdapat ketidak normalan di dalam lobus frontal yang mengendalikan perencanaan dan control pada system limbic.
• Autis sebagai akibat dari zat – zat beracun
Sesuai dengan temuan DR. Eric Hollander dari New York ia menemukan bahwa 60 % dari pasien autis di kliniknya sudah terekspos oleh piticon versi sintesis dari sebuah bahan kimia otak ( oxytocin ) sejak mereka dalam kandungan, piticon tersebut di berikan untuk membantu mendorong kelahiran. Hal yang sama dikemukakan oleh Melly Budiman bahwa peningkatan kasus autis tidak terlepas dari peningkatan polusi, zat – zat seperti timah ( PB ) dari knalpot, cerobong pabrik, cat tembok, cadmium dari batu baterai, turunan air raksa ( HG ) yag digunakan untuk menjinakkan kuman. ( Kompas, September 2000 ).
autisme juga disebabkan oleh faktor pemberian nutrisi sewaktu bayi masih di dalam kandungan. Makanan yang mengandung bahan pengawet yang dikonsumsi ibu hamil berpengaruh terhadap pertumbuhan janin.
"Makanan yang mengandung bahan pengawet, seperti makanan cepat saji, sangat buruk bagi pertumbuhan janin. Makanan laut yang tercemar merkuri juga berbahaya bagi janin," kata Dokter Nining Febriana kepada Ari Sulistyo dari Gatra.
Selain makanan instan, ditemukan banyak unsur kasein dan gluterin pada tubuh pasien autisme. Kasein banyak terdapat pada susu sapi, sedangkan gluterin pada terigu. Maka, penyandang autisme dilarang mengonsumsi susu sapi dan makanan yang terbuat dari tepung terigu.
"Jika itu dipatuhi, jumlah anak autis berangsur-angsur bisa berkurang," ujar Nining. Menanggapi temuan Scherer, Nining mengatakan bahwa faktor genetik dulu memang menjadi dugaan. Segala kemungkinan faktor penyebab autisme masih bisa muncul, termasuk faktor genetik.
Dokter Tjin Wiguna, psikiater anak pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, juga mengamini soal peran kelainan genetik. Ada kemungkinan, keluarga yang punya anak autis akan memiliki anak lagi yang kena penyakit yang sama. "Risikonya 3% lebih tinggi ketimbang dari keluarga normal," katanya. Namun belum dapat digeneralisasi bahwa semua kasus anak autis terjadi karena kelainan gen.
Sebagian para ahli menyatakan sebagai kelaina perkembangan akibat dari faktor genetic, neurobiologist, zat beracun dan vaksin.
• Faktor Genetik
Hal ini diperoleh berdasarkan hasil penelitian Nelson dan Grether pada tahun 2001 ( dalam Indri Hapsari 2001 ) memberikan gambaran kasar bahwa 5 % dari saudara kandung anak penyandang autis dan 75 % bagi saudara kembar identk dari anak penyandang autis.
• Faktor Neurobiologis
Hal ini dinyatakan oleh Baron-Cohen dan Bolton berdasarkan hasil Study Post Morten ( setelah meninggal ). Study dilakukan terhadap jaringan otak penyandang autis mengindikasikan terdapat ketidak normalan di dalam lobus frontal yang mengendalikan perencanaan dan control pada system limbic.
• Autis sebagai akibat dari zat – zat beracun
Sesuai dengan temuan DR. Eric Hollander dari New York ia menemukan bahwa 60 % dari pasien autis di kliniknya sudah terekspos oleh piticon versi sintesis dari sebuah bahan kimia otak ( oxytocin ) sejak mereka dalam kandungan, piticon tersebut di berikan untuk membantu mendorong kelahiran. Hal yang sama dikemukakan oleh Melly Budiman bahwa peningkatan kasus autis tidak terlepas dari peningkatan polusi, zat – zat seperti timah ( PB ) dari knalpot, cerobong pabrik, cat tembok, cadmium dari batu baterai, turunan air raksa ( HG ) yag digunakan untuk menjinakkan kuman. ( Kompas, September 2000 ).
autisme juga disebabkan oleh faktor pemberian nutrisi sewaktu bayi masih di dalam kandungan. Makanan yang mengandung bahan pengawet yang dikonsumsi ibu hamil berpengaruh terhadap pertumbuhan janin.
"Makanan yang mengandung bahan pengawet, seperti makanan cepat saji, sangat buruk bagi pertumbuhan janin. Makanan laut yang tercemar merkuri juga berbahaya bagi janin," kata Dokter Nining Febriana kepada Ari Sulistyo dari Gatra.
Selain makanan instan, ditemukan banyak unsur kasein dan gluterin pada tubuh pasien autisme. Kasein banyak terdapat pada susu sapi, sedangkan gluterin pada terigu. Maka, penyandang autisme dilarang mengonsumsi susu sapi dan makanan yang terbuat dari tepung terigu.
"Jika itu dipatuhi, jumlah anak autis berangsur-angsur bisa berkurang," ujar Nining. Menanggapi temuan Scherer, Nining mengatakan bahwa faktor genetik dulu memang menjadi dugaan. Segala kemungkinan faktor penyebab autisme masih bisa muncul, termasuk faktor genetik.
Dokter Tjin Wiguna, psikiater anak pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, juga mengamini soal peran kelainan genetik. Ada kemungkinan, keluarga yang punya anak autis akan memiliki anak lagi yang kena penyakit yang sama. "Risikonya 3% lebih tinggi ketimbang dari keluarga normal," katanya. Namun belum dapat digeneralisasi bahwa semua kasus anak autis terjadi karena kelainan gen.
Ciri-Ciri Autis
B CIRI – CIRI AUTISME
1. Mengalami kesulitan berinteraksi dengan teman sebayanya.
2. Sering mengalami emosi yang berlebihan, disertai rasa marah seranagn agresif.
3. Selalu menghindar/tidak mau melakukan kontak mata.
4. Senang menyusun mainan dengan pola berbaris/membentuk lingkaran.
5. Lebih suka menyendiri.
6. Mengalami kesulitan belajar dengan sekolah pada umumnya.
7. Terlihat aktif/kurang aktif social
8. Mengalami keterlambatan bicara untuk anak seusianya.
9. Tidak memahami bahasa verbal.
10. Mengalami keterlambatan mengekspresikan keinginan dan menunjuk sesuatu/hanya ingin menarik tangan orang lain jika menginginkan sesuatu.
11. Tidak bereaksi bila namanya di panggil.
12. Tempramen yang pasif pada umur 6 bulan.
13. Kecenderungan sangat terpukau dengan benda tertentu.
14. Bahas tubuhnya kurang.
15. Pada umur satu tahun anak – anak ini lebih jelas menunjukkan gangguan komunikasi dan berbahasa.
1. Mengalami kesulitan berinteraksi dengan teman sebayanya.
2. Sering mengalami emosi yang berlebihan, disertai rasa marah seranagn agresif.
3. Selalu menghindar/tidak mau melakukan kontak mata.
4. Senang menyusun mainan dengan pola berbaris/membentuk lingkaran.
5. Lebih suka menyendiri.
6. Mengalami kesulitan belajar dengan sekolah pada umumnya.
7. Terlihat aktif/kurang aktif social
8. Mengalami keterlambatan bicara untuk anak seusianya.
9. Tidak memahami bahasa verbal.
10. Mengalami keterlambatan mengekspresikan keinginan dan menunjuk sesuatu/hanya ingin menarik tangan orang lain jika menginginkan sesuatu.
11. Tidak bereaksi bila namanya di panggil.
12. Tempramen yang pasif pada umur 6 bulan.
13. Kecenderungan sangat terpukau dengan benda tertentu.
14. Bahas tubuhnya kurang.
15. Pada umur satu tahun anak – anak ini lebih jelas menunjukkan gangguan komunikasi dan berbahasa.
AUTIS
A.PENGERTIAN AUTIS
Autis adalah suatu kelainan perkembangan yang menyebabkan gangguan dan hambatan pada komunikasi dan ketrampilan social. Gejala autis ini sudah tampak sebelum anak berusia 3 tahun. Sebagian besar penyandang autis mengalami gangguan bicara tetapi pada umumnya memiliki ketrampilan motorik yang baik.
Apakah autis itu ???
Autis adalah gangguan perkembangan berat yang mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi dan berelasi dengan orang lain. Penyandang autisme tidak dapat behubungan dengan orang lain secara berarti serta kemampuannya untuk membangun hubungan dengan orang lain terganggu karena ketidak mampuannya untuk berkomunikasi dan untuk mengerti perasaan orang lain.
Autisme merupakan gangguan perkembangan neurobiologist yang berat dan luas. Ini terjadi pada tiga tahun pertama kehidupan seorang anak. Sumber lain mengatakan bahwa autisme adalah cacat pada perkembangan syaraf psikis manusia, baik sejak janin dan seterusnya. Yang menyebabkan kelemahan atau perbedaan dalam berinteraksi social. Kemampuan berkomunikasi, pola minat dan tingkah laku. ( http://sitohay407.wordpress.com)
Autis adalah suatu kelainan perkembangan yang menyebabkan gangguan dan hambatan pada komunikasi dan ketrampilan social. Gejala autis ini sudah tampak sebelum anak berusia 3 tahun. Sebagian besar penyandang autis mengalami gangguan bicara tetapi pada umumnya memiliki ketrampilan motorik yang baik.
Apakah autis itu ???
Autis adalah gangguan perkembangan berat yang mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi dan berelasi dengan orang lain. Penyandang autisme tidak dapat behubungan dengan orang lain secara berarti serta kemampuannya untuk membangun hubungan dengan orang lain terganggu karena ketidak mampuannya untuk berkomunikasi dan untuk mengerti perasaan orang lain.
Autisme merupakan gangguan perkembangan neurobiologist yang berat dan luas. Ini terjadi pada tiga tahun pertama kehidupan seorang anak. Sumber lain mengatakan bahwa autisme adalah cacat pada perkembangan syaraf psikis manusia, baik sejak janin dan seterusnya. Yang menyebabkan kelemahan atau perbedaan dalam berinteraksi social. Kemampuan berkomunikasi, pola minat dan tingkah laku. ( http://sitohay407.wordpress.com)
Selasa, 23 Februari 2010
Enuresis(kencing dimalam hari)
Sering kali seorang anak ketika ia tidur dimalam hari,ia mengalami kencing dimalam hari (mengompol),ketika ia mengalami ngompol pada malam hari,ia tidak menyadarinya,ketika ia sadar,barulah disaat ia terbangun dari tidur nya
Sebenarnya,apakah yang dimaksud dengan Eunuresis itu?Enuresis adalah istilah yang digunakan untuk kebiasaan pengeluaran air seni tanpa terkendali (mengompol) pada anak-anak yang berusia lebih dari tiga tahun. Mengompol bisa terjadi pada saat tidur siang hari,namun pada umumnya terjadi pada saat tidur malam hari.
Biasanya, anak yang menderita enuresis menyadari bahwa dirinya basah oleh air seninya melalui mimpi seolah sedang buang air kecil di kamar mandi. Anak terbangun dan sudah mendapati pakaian tidurnya basah oleh air seninya sendiri. Mengompol bisa berulang dengan frekuensi 5-6 kali dalam satu minggu. Kejadian enuresis bisa bervariasi yang disebabkan oleh kebiasaan atau oleh kondisi tertentu, misalnya saat anak merasa dirinya sedang sangat tertekan.
Kebanyakan kanak-kanak berhenti kencing malam selepas berumur 5 atau 6 tahun tetapi ada
juga kajian menunjukkkan yang 10%-15% daripada kanak-kanak yang berumur 5-12 tahun
masih terus kencing malam walaupun mereka tiada masaalah dalam sistem buah pinggang
Apakah sebab Enuresis?
Kencing malam selalu berlaku dalam sebuah keluarga.
Kencing malam byasa disebabkan oleh
• Gangguan tidur,kebanyakkan penderita yang kencing malam dikatakan mereka tidur
terlalu nyenyak. Walau bagaimapun tidak ada bukti yang pasti untuk mendukung
pernyataan ini.
• Kurangnya hormon yang menghasilkan yang disebut vasopressin ketika tidur. Vassopressin sangat penting untuk mengurangkan kencing diwaktu malam.
Jenis-jenis kencing malam?
• Kencing malam hanya diwaktu malam.(peringkat awal nokturnal enuresis)
• Kencing malam diwaktu malam dan siang hari(tidak boleh mengawal kencing)-hal ini
perlu penilaian seterusnya oleh doktor untuk mengetahui sebab yang lain.
• Sebab-sebab gangguan lain yang biasa menyebabkan kencing malam(secondaryenuresis) ialah jangkitan pada pundi kencing,masalah saraf tunjang, pundi kencing
yang tidak normal dan masalah metabolisma seperti kencing manis.Biasanya keadaan
yang seperti ini akan menunjukkan tanda-tanda lain selain dari kencing malam.
Cara untuk mengatasinya adalah
• Dengan Mengubah perilakunya. contohnya memberi hukuman pada anak anda sekirannya dia tidak kencing ketika mau tidur malam.
• Ingat : enuresis akan bertambah baik bila umurnya meningkat.
Sebenarnya,apakah yang dimaksud dengan Eunuresis itu?Enuresis adalah istilah yang digunakan untuk kebiasaan pengeluaran air seni tanpa terkendali (mengompol) pada anak-anak yang berusia lebih dari tiga tahun. Mengompol bisa terjadi pada saat tidur siang hari,namun pada umumnya terjadi pada saat tidur malam hari.
Biasanya, anak yang menderita enuresis menyadari bahwa dirinya basah oleh air seninya melalui mimpi seolah sedang buang air kecil di kamar mandi. Anak terbangun dan sudah mendapati pakaian tidurnya basah oleh air seninya sendiri. Mengompol bisa berulang dengan frekuensi 5-6 kali dalam satu minggu. Kejadian enuresis bisa bervariasi yang disebabkan oleh kebiasaan atau oleh kondisi tertentu, misalnya saat anak merasa dirinya sedang sangat tertekan.
Kebanyakan kanak-kanak berhenti kencing malam selepas berumur 5 atau 6 tahun tetapi ada
juga kajian menunjukkkan yang 10%-15% daripada kanak-kanak yang berumur 5-12 tahun
masih terus kencing malam walaupun mereka tiada masaalah dalam sistem buah pinggang
Apakah sebab Enuresis?
Kencing malam selalu berlaku dalam sebuah keluarga.
Kencing malam byasa disebabkan oleh
• Gangguan tidur,kebanyakkan penderita yang kencing malam dikatakan mereka tidur
terlalu nyenyak. Walau bagaimapun tidak ada bukti yang pasti untuk mendukung
pernyataan ini.
• Kurangnya hormon yang menghasilkan yang disebut vasopressin ketika tidur. Vassopressin sangat penting untuk mengurangkan kencing diwaktu malam.
Jenis-jenis kencing malam?
• Kencing malam hanya diwaktu malam.(peringkat awal nokturnal enuresis)
• Kencing malam diwaktu malam dan siang hari(tidak boleh mengawal kencing)-hal ini
perlu penilaian seterusnya oleh doktor untuk mengetahui sebab yang lain.
• Sebab-sebab gangguan lain yang biasa menyebabkan kencing malam(secondaryenuresis) ialah jangkitan pada pundi kencing,masalah saraf tunjang, pundi kencing
yang tidak normal dan masalah metabolisma seperti kencing manis.Biasanya keadaan
yang seperti ini akan menunjukkan tanda-tanda lain selain dari kencing malam.
Cara untuk mengatasinya adalah
• Dengan Mengubah perilakunya. contohnya memberi hukuman pada anak anda sekirannya dia tidak kencing ketika mau tidur malam.
• Ingat : enuresis akan bertambah baik bila umurnya meningkat.
Minggu, 13 Desember 2009
Fenomena terjadi nya bunuh diri
Bunuh diri adalah merupakan suatu tindakan menghilangkan nyawa sendiri dengan cara yang cepat dan melewati kodrat kita untuk hidup di dunia ini.Bunuh diri merupakan suatu tindakan yang sangat dilarang oleh agama,karena,itu merupakan suatu tindakan yang di haramkan,karena menyalahi aturan kodrat yang sudah ada.
Fenomena ini sangat sering terjadi pada lingkungan kita masing-masing,ada yang berhasil melakukan nya,ada pula yang tidak berhasil melakukan nya,dan hasil yang di dapat ialah,hanya menambah beban penyakit bagi diri nya sendiri dan beban malu yang menghinggapi keluarga yang melakukan aksi nekat tersebut,itu apabila aksi meraka gagal.
Terkadang, para pelaku bunuh diri ini melakukan aksi bunuh diri dengn berbagai macam alasan,mulai dari alasan ekonomi,sampai yang di bilang sepele,hanya karena masalah percintaan
Menurut data yang dilihat dari Organisasi Kesehatan Dunia(WHO)menyatakan bahwa,di indonesia sendiri berdasarkan hasil dari penghitungan Direktur WHO & bidang kesehatan mental dan kekerasan mengatakan,kalau jumlah rata-rata penduduk indonesia yang meninggal akibat bunuh diri itu mencapai 24 orang dari 100 ribu penduduk/hari,coba kita bayangkan,bagaimana rendah nya kesehatan mental masyarakat indonesia
Seperti kasus berikut,kasus bunuh diri di negeri ini, baik yang berhasil ataupun yang dapat di tolong seperti kejadian yang ada di sebuah daerah di Jawa tengah, dimana pelakunya adalah seorang Calon Bupati yang telah gagal dalam Pilkada.
Satu lagi, seorang siswi Sekolah Menengah Umum di Tangerang bunuh diri karena tidak di belikan Telepon Selular oleh orangtuanya. Lalu di Bogor ada seorang pemuda yang bunuh diri karena malu di ejektemen-temennya karena belum membeli kaset lagu dari sebuah grup Band papan atas.
Selain itu,penyebab seseorang melakukan bunuh diri adalah kondisi sosial ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial dan kesehatan fisik yang buruk, gangguan jiwa seperti depresi, gangguan bipolar, penyalahgunaan zat addiktif dan alkohol serta skizofrenia
Sebenar nya,para pelaku yang melakukan bunuh diri tersebut,mereka mengalami pergolakan batin yng cukup hebat sebelum ia benar-benar melakukan aksi bunuh diri tersebut
Untuk itu,peran orang-orang yang disektar mereka yang memiliki ciri-ciri tersebut,hendak lah selalu terus mengawasi,dan memperhatikan pola tngkah laku mereka, kaena peran orang-orang yang ada di samping mereka,terutama keluarga dan orangtua sangat di perlukan dalam mencegah aki nekat mereka kemudian jangan tinggalkan mereka seorang diri, jauhkan dari benda-benda berbahaya, dan usahakan untuk meminimalkan konflik,serta tidak lupa pula dalam hal ini masyarakat, tokoh agama dan pemerintah juga mempunyai peran penting dalam mencegah dan meminimalkan kasus bunuh diri dengan menanamkan nilai-nilai kesehatan jiwa sejak dini.
"Orang yang sehat jiwanya, menurut Nurmiati, adalah orang yang merasa sehat dan bahagia, mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain apa adanya dan bersikap positif terhadap dirinya dan orang lain
Sumber Referensi
http://www.indonesiaindonesia.com/f/17853-penyebab-bunuh/
http://rizkysatrio.wordpress.com/2008/08/22/apa-penyebab-bunuh-diri/
http://www.kapanlagi.com/h/0000134631.html
Fenomena ini sangat sering terjadi pada lingkungan kita masing-masing,ada yang berhasil melakukan nya,ada pula yang tidak berhasil melakukan nya,dan hasil yang di dapat ialah,hanya menambah beban penyakit bagi diri nya sendiri dan beban malu yang menghinggapi keluarga yang melakukan aksi nekat tersebut,itu apabila aksi meraka gagal.
Terkadang, para pelaku bunuh diri ini melakukan aksi bunuh diri dengn berbagai macam alasan,mulai dari alasan ekonomi,sampai yang di bilang sepele,hanya karena masalah percintaan
Menurut data yang dilihat dari Organisasi Kesehatan Dunia(WHO)menyatakan bahwa,di indonesia sendiri berdasarkan hasil dari penghitungan Direktur WHO & bidang kesehatan mental dan kekerasan mengatakan,kalau jumlah rata-rata penduduk indonesia yang meninggal akibat bunuh diri itu mencapai 24 orang dari 100 ribu penduduk/hari,coba kita bayangkan,bagaimana rendah nya kesehatan mental masyarakat indonesia
Seperti kasus berikut,kasus bunuh diri di negeri ini, baik yang berhasil ataupun yang dapat di tolong seperti kejadian yang ada di sebuah daerah di Jawa tengah, dimana pelakunya adalah seorang Calon Bupati yang telah gagal dalam Pilkada.
Satu lagi, seorang siswi Sekolah Menengah Umum di Tangerang bunuh diri karena tidak di belikan Telepon Selular oleh orangtuanya. Lalu di Bogor ada seorang pemuda yang bunuh diri karena malu di ejektemen-temennya karena belum membeli kaset lagu dari sebuah grup Band papan atas.
Selain itu,penyebab seseorang melakukan bunuh diri adalah kondisi sosial ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial dan kesehatan fisik yang buruk, gangguan jiwa seperti depresi, gangguan bipolar, penyalahgunaan zat addiktif dan alkohol serta skizofrenia
Sebenar nya,para pelaku yang melakukan bunuh diri tersebut,mereka mengalami pergolakan batin yng cukup hebat sebelum ia benar-benar melakukan aksi bunuh diri tersebut
Untuk itu,peran orang-orang yang disektar mereka yang memiliki ciri-ciri tersebut,hendak lah selalu terus mengawasi,dan memperhatikan pola tngkah laku mereka, kaena peran orang-orang yang ada di samping mereka,terutama keluarga dan orangtua sangat di perlukan dalam mencegah aki nekat mereka kemudian jangan tinggalkan mereka seorang diri, jauhkan dari benda-benda berbahaya, dan usahakan untuk meminimalkan konflik,serta tidak lupa pula dalam hal ini masyarakat, tokoh agama dan pemerintah juga mempunyai peran penting dalam mencegah dan meminimalkan kasus bunuh diri dengan menanamkan nilai-nilai kesehatan jiwa sejak dini.
"Orang yang sehat jiwanya, menurut Nurmiati, adalah orang yang merasa sehat dan bahagia, mampu menghadapi tantangan hidup, dapat menerima orang lain apa adanya dan bersikap positif terhadap dirinya dan orang lain
Sumber Referensi
http://www.indonesiaindonesia.com/f/17853-penyebab-bunuh/
http://rizkysatrio.wordpress.com/2008/08/22/apa-penyebab-bunuh-diri/
http://www.kapanlagi.com/h/0000134631.html
Langganan:
Postingan (Atom)