I. FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB AUTIS
Sebagian para ahli menyatakan sebagai kelaina perkembangan akibat dari faktor genetic, neurobiologist, zat beracun dan vaksin.
• Faktor Genetik
Hal ini diperoleh berdasarkan hasil penelitian Nelson dan Grether pada tahun 2001 ( dalam Indri Hapsari 2001 ) memberikan gambaran kasar bahwa 5 % dari saudara kandung anak penyandang autis dan 75 % bagi saudara kembar identk dari anak penyandang autis.
• Faktor Neurobiologis
Hal ini dinyatakan oleh Baron-Cohen dan Bolton berdasarkan hasil Study Post Morten ( setelah meninggal ). Study dilakukan terhadap jaringan otak penyandang autis mengindikasikan terdapat ketidak normalan di dalam lobus frontal yang mengendalikan perencanaan dan control pada system limbic.
• Autis sebagai akibat dari zat – zat beracun
Sesuai dengan temuan DR. Eric Hollander dari New York ia menemukan bahwa 60 % dari pasien autis di kliniknya sudah terekspos oleh piticon versi sintesis dari sebuah bahan kimia otak ( oxytocin ) sejak mereka dalam kandungan, piticon tersebut di berikan untuk membantu mendorong kelahiran. Hal yang sama dikemukakan oleh Melly Budiman bahwa peningkatan kasus autis tidak terlepas dari peningkatan polusi, zat – zat seperti timah ( PB ) dari knalpot, cerobong pabrik, cat tembok, cadmium dari batu baterai, turunan air raksa ( HG ) yag digunakan untuk menjinakkan kuman. ( Kompas, September 2000 ).
autisme juga disebabkan oleh faktor pemberian nutrisi sewaktu bayi masih di dalam kandungan. Makanan yang mengandung bahan pengawet yang dikonsumsi ibu hamil berpengaruh terhadap pertumbuhan janin.
"Makanan yang mengandung bahan pengawet, seperti makanan cepat saji, sangat buruk bagi pertumbuhan janin. Makanan laut yang tercemar merkuri juga berbahaya bagi janin," kata Dokter Nining Febriana kepada Ari Sulistyo dari Gatra.
Selain makanan instan, ditemukan banyak unsur kasein dan gluterin pada tubuh pasien autisme. Kasein banyak terdapat pada susu sapi, sedangkan gluterin pada terigu. Maka, penyandang autisme dilarang mengonsumsi susu sapi dan makanan yang terbuat dari tepung terigu.
"Jika itu dipatuhi, jumlah anak autis berangsur-angsur bisa berkurang," ujar Nining. Menanggapi temuan Scherer, Nining mengatakan bahwa faktor genetik dulu memang menjadi dugaan. Segala kemungkinan faktor penyebab autisme masih bisa muncul, termasuk faktor genetik.
Dokter Tjin Wiguna, psikiater anak pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, juga mengamini soal peran kelainan genetik. Ada kemungkinan, keluarga yang punya anak autis akan memiliki anak lagi yang kena penyakit yang sama. "Risikonya 3% lebih tinggi ketimbang dari keluarga normal," katanya. Namun belum dapat digeneralisasi bahwa semua kasus anak autis terjadi karena kelainan gen.
Selasa, 30 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar